Warga NU Cianjur Raih Berkah Tahun Baru 2019 Bersama Habib Umar Assegaff Majalaya

Cianjur ( Santri Noesantara ) – Pergantian tahun merupakan momentum yang paling dinanti oleh berbagai kalangan di Negeri Indonesia dan Dunia. Seluruh umat ingin menjadi pelaku sejarah dan melewatinya dengan berbagai macam cara agar selalu bisa mengenangnya. Ada yang melewati pergantian tahun dengan cara biasa demi membahagiakan dirinya dan ada pula yang membuat agenda secara kolektif dan berjamaah.

Mayoritas umat, Melewati malam pergantian tahun dengan berfoya-foya, mulai berwisata ke luar negeri hingga sibuk melepas malam dengan berpestapora, yang terikat dengan dunia dia akan mengikuti permainanya hingga terlena. Berbeda dengan warga NU Cianjur. Mereka menyibukan dirinya dengan hal positif, hadir di Masjid, Musholla, Madrasah dan Majelis Taklim.

Para pengurus Jam’iyyatul Qurra wal Huffadh Nahdlatul Ulama PC JQH NU Cianjur menorehkan sejarahnya pada malam tahun baru 2019. Mereka mengadakan acara doa bersama dan Bermuhasabah di Masjid Agung Cianjur yang terletak di Jl. Siti Jenab, Pamoyanan, Kec. Cianjur, Kab. Cianjur Jawa Barat.

Acara dimulai bakda Isya, Senin 31 Desember 2018 hingga Selasa 1 Januari 2019 menghadirkan Mubaligh populer, Dzuriyat Rasul yang biasa melakukan dakwah blusukan di Indonesia, yaitu Habib Umar bin Husein Assegaff. Habib dalam Mauidzoh Hasanahnya menyampaikan sejarah kegemilangan Alim Ulama Cianjur yang amat tersohor di Nusantara dan Dunia.

Habib Umar bin Husein Assegaff Menyampaikan Ceramah di Masjid Agung Cianjur 

” Cianjur kota santri yang dikenal banyak melahirkan Ulama, ulamanya tidak hanya dikenal sebagai ahli tasawuf tapi juga pandai berdakwah dan menghasilkan karya tulis yang abadi.” Ucap Habib Umar Majalaya yang pernah berguru kepada Almarhum Habib Hamid bin Alwi bin Hud Alatas.

Sejarah terkait kehidupan Ulama Cianjur harus dikaji, difahami dan disampaikan kepada generasi Millenial. Hal itu patut dilakukan agar warga NU dan umat bisa berkaca. ” Rasul Saw mendambakan pengikutnya agar menjadi orang Sholeh dan Sholihah, hingga dapat bersyukur kepada Allah Swt, tujuan mulia itu bisa terwujud dengan mengikuti dan mengkaji serta mengenal Ulama terdahulu.” Tegas Habib yang pernah menghabiskan masa mudanya belajar di Pesantren Atsaqofah yang didirikan oleh Almarhum Sayidilwalid Habib Abdurahman bin Ahmad Assegaff.

Ulama Cianjur, seperti Mama Gentur, Mama Ajengan Gelar dan Mama KH Abdullah bin Nuh dikenal sebagai pendakwah Islam Rahmatan Lil ‘alamin. Mereka berdakwah menggunakan pola-pola indah yang sesuai dengan apa yang dipraktikan oleh Rasul Saw, Keluarganya dan Para Sahabatnya. Tidak mudah marah, tidak mudah menyudutkan tapi mengedepankan Akhlak dalam setiap dimensi aktifitas kehidupannya.

” Pola dakwah Ulama terdahulu sangat efektif, diterima umat. Mereka berjuang dengan penuh keikhlasan pada akhirnya lahir ulama yang kita kenal di masa kini. Ulama kita toleran, pandai mengedepankan tabayun dan bermusyawarah serta mencipta kedamaian di Indonesia.” Papar Habib Umar Majalaya yang juga aktif sebagai Pengurus Lembaga dakwah LD NU Jawa Barat.

Diakhir acara Habib Umar Assegaff Majalaya memimpin acara Muhasabah. Lantunan dzikir dan Ratib Al Attas dibacanya dengan suara merdu, hadirin diajak untuk beristigfar hingga meneteskan air mata dan mensyukuri berbagai kenikmatan yang Allah SWT berikan. Malam pergantian tahun yang berkah, dikala mayoritas umat sibuk meniup terompet dan meledakan petasan, justru warga NU Cianjur dan para Alim Ulamanya bersimpuh bersama Dzuriyat Rasul Saw.

( Santri Noesantara / Hady )