Toleransi dan Etos Kerja Sayidina Ali Bersama Seorang Yahudi

Garut – Pengajian itu tidak musti diselenggarakan di masjid dan majelis taklim saja, tapi kegiatan positif harus dilaksanakan di berbagai Medan termasuk di perkantoran dan pusat perbelanjaan.

Hal itu diucapkan oleh Ketua DKM Musholla Yogya Depstore Garut, Ceng Muhammad Agung saat menyampaikan sambutan pada pengajian bulanan karyawan Yogya Depstore di Jl. Siliwangi, Regol, Garut Kota, Kab. Garut Jawa Barat.

Pengajian bulanan kali ini dilaksanakan pada Jum’at (15/2/2019) menghadirkan salah satu author Lembaga Ta’lif wa Nasyr LTN NU Jawa Barat, H. Abdul Hadi Hasan, Lc. 

Abdul Hadi Hasan dalam ceramahnya menyampaikan  bahwa semua pekerjaan harus dilandasi dengan niat dan keikhlasan serta keyakinan.

” Allah Swt mendorong kita untuk bekerja dengan gigih, apapun aktifitas kita semuanya disaksikan oleh Allah Yang Maha Mengetahui, juga disaksikan oleh Rasul Saw dan orang- orang beriman.” Ucap Kang Hadi yang juga aktif sebagai Wakil Ketua Pergunu Kota Depok.

Dirinya melanjutkan, seorang muslim harus beraktifitas secara dhohir dan batin, membuktikan bahwa tujuan dari bekerja tidak terbatas pada kepentingan materi dan kepuasan sesaat di Dunia tapi juga untuk Akhirat.

” Seorang yang beriman senantiasa berusaha secara maksimal, apapun hasilnya akan diterima, sedikit tapi berkah lebih baik dari banyak tapi tidak halal. Dimana pun bekerja kita kedepankan Akhlakul Karimah dan kejujuran.” Tegas Kang Hadi yang hobi berdakwah blusukan.

Dalam paparan selanjutnya kang Hadi menyebutkan riwayat kisah Sayidina  Ali pernah berpuasa nazar selama tiga hari dan untuk memenuhi kebutuhan buka puasanya beliau harus bekerja pada seorang Yahudi. 

Sayidina Ali bin Abi Thalib mendatangi seorang Yahudi yang pandai memproduksi benang Wol dari biri-biri, beliau meminta pekerjaan dengan mengambil sebagian bulu biri-biri lalu dibawanya pulang.

Siti Fatimah Az-Zahra binti Rasul Saw membantu Sayidina Ali mengolah bulu biri-biri hingga menjadi bahan kain wol. Pekerjaan mulia jelas meneteskan keringat dan mendatangkan Rizqi melalui wasilah si Yahudi.

Siti Fatimah bisa saja meminta doa dari ayahnya agar mendapat makanan surga, tapi hal itu tidak dimanfaatkan, justru dirinya membuktikan usaha dan doa harus dilakukan bersamaan disertai sikap baik dalam bersosialisasi sekalipun dengan non Muslim.

” Pintu keberkahan terbuka lebar, kita pun jika ingin menjadi orang sukses di Dunia dan akhirat harus peka dengan kondisi sosial. Ingat Ulama dan Habib Nusantara bisa mendirikan NKRI berkat etos kerjanya, niat ikhlasnya dan adanya kerjasama dengan semua pihak, jadi amal jariyahnya senantiasa dikenang.” Papar Kang Hadi.

Dalam kata penutupnya Kang Hadi menekankan bahwa kunci kesuksesan seseorang tergantung dengan keyakinan, niat ikhlas, usaha dan tingkat ketawakalan dan kesabarannya.

( Santri Noesantara/Hakeem)