Syukur, Penghambaan Pembuka Keberkahan dan Gerbang Kesuksesan Menurut Sayidina Ali Zainal Abidin Kutub Ahli Tarekat

Depok ( Santri Noesantara ) – Malam Jumat merupakan malam yang sangat dinanti oleh para ahli munajat, malam yang dalam riwayat disebut dengan Sayidul Ayyam itu menyimpan banyak rahasia. Seluruh pesuluk pasti akan mengisinya dengan beragam ibadah, hal itu dilakukan demi membuka ribuan tabir keberkahan yang dijanjikan Allah Swt dan Rasul-Nya.

Warga Nahdliyin Sawangan, Kota Depok Jawa Barat  tidak mau ketinggalan, setiap malam Jumat memiliki pengajian rutin. Kamis, 3 Januari 2019 Ust. Maswadi mengawali pengajian dengan sholawatan khas karya Sayyidilwalid Habib Abdurahman bin Ahmad Assegaff, dilanjutkan pembacaan Sholawat Nariyah, lalu Yasin dan tahlil.

Wakil Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, PC Pergunu Kota Depok H. Abdul Hadi Hasan, Lc dipercaya menyampaikan Mauidzoh Hasanah, dalam permulaan ceramahnya membacakan Surat Lukman dari Ayat satu hingga ayat ke Lima. Menurutnya surat ini mengandung banyak hikmah dan nilai-nilai Akhlak Islami.

” Karakteristik orang baik, dalam Surat Lukman disebut sebagai Al Muhsinin. Al Qur’an mengandung berbagai ayat, didalamnya ada hikmah, petunjuk dan Rahmat bagi pelaku kebajikan, mereka adalah orang yang mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan percaya kepada hari Kiamat.” Ucap Kang Hadi yang juga termasuk Muharrik Dakwah Blusukan LTM NU Bogor.

Dirinya melanjutkan bahwa diantara amalan orang baik adalah selalu mensyukuri segala nikmat pemberian Allah Swt. Bersyukur adalah suatu pengakuan terhadap pemberi nikmat Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji.

” Syukur sebuah perbuatan terpuji, akhlak mulia yang harus difahami dan dibumikan, Allah Swt tidak membutuhkan apapun dari hamba-nya Nya, tapi syukur itu akan kembali pengaruhnya bagi pelaku, siapa yang bersyukur maka Rizqinya akan semakin bertambah tentu dibarengi sikap empati untuk setia menyisihkan harta bagi yang lain, seperti saat ini banyak orang tengah sibuk membantu korban tsunami Anyer, Banten dan Lampung serta korban tanah longsor di Sukabumi.” Papar Kang Hadi yang hobi menggerakkan literasi santri.

Pada kesempatan yang sama, menurutnya orang baik dan Sholeh dalam sejarah selalu tercatat abadi. Contoh apa yang dilakukan oleh Sayidina Ali Zainal Abidin Al Sajjad, Datuk para Habaib ini dikenal sebagai Ahli Ibadah, Imam suri tauladan bagi ahli tarekat. Sayidina Zainal Abidin dikenal kewaraannya, selalu menyibukan diri beribadah, tak segan meneteskan air matanya di sisi Ka’bah dan bersodaqah secara sembunyi-sembunyi.

” Kenapa orang mulia, keturunan Rasul Saw, Datuk para Habaib masih melakukan hal itu?! Beliau pernah menyatakan kemuliaan orang tergantung dengan ketakwaan dan penghambaan kepada Allah Swt, juga keahliannya dalam memberikan manfaat, keturunan tidak menjamin. Maka siapapun yang dekat dengan Rasul seperti Sayidina Abu Bakar Shidiq, Sayidina Umar bin Khatab, Sayidina Utsman bin Affan juga Sayidina Ali bin Abi Thalib selalu berjuang dibarengi ibadah tanpa henti, itu orang hebat! Bagaimana dengan kita yang jauh dari Rasul dan bukan keturunannya?.” Tegas Kang Hadi memberi semangat.

Orang baik dan mulia selalu mengisi waktunya dengan ibadah, mensucikan diri hingga kemuliaan akhlaknya dapat dirasakan oleh berbagai kalangan yang hidup di masanya dan pasca wafatnya. Mereka semua dapat meraih kemuliaan karena berhasil dalam melakukan syukur secara benar dan menjauhkan diri dari misdaq ” Wa Qalilun min ‘Ibadiyassyakur.

( Santri Noesantara/Musa).