Silaturahim Habib Umar Majalaya Meraih Hikmah Mama KH Abdullah bin Nuh

Keindahan silaturahim di kediaman putra Mama KH Abdullah bin Nuh Bogor 

Bogor – Silaturahim merupakan aktifitas yang harus senantiasa dilakukan oleh para pecinta Rasul Saw. Silaturahim sangat dianjurkan oleh Rasul saw karena selain memanjangkan usia juga akan menambahkan Rizqi dan Keberkahan.

Kamis, (3/10) wakil ketua Lembaga Dakwah Nahdaltul Ulama LDNU Jawa Barat, Habib Umar bin Husein Assegaff Majalaya memulai silaturahimnya ke Citayam Bojonggede, tepatnya ke Majlis Taklim Al Ittihad Al islami menjumpai Kiai Hasan Sadzili, salah satu Khadim setia Habib Hamid bin Alwi bin Hud Alatas.

Habib Umar Majalaya bersama Kiai Hasan Sadzili dan Ust Maswadi Sawangan 

Dari Citayam Habib yang dikenal sangat supel dan pandai bergaul itu langsung meluncur ke Kota Bogor dan singgah Di Yayasan Islamic Center Al Ghazaly tepatnya di Kota Paris. Setiba di komplek Yayasan Al Ghazaly Habib langsung melakukan ziarah di Makam Mama KH Abdullah bin Nuh.

Habib Umar Majalaya tengah melakukan ziarah di Makam Mama KH Abdullah bin Nuh

Lepas ziarah Habib Umar Majalaya memasuki kediaman Ketua MUI Kota Bogor, KH Musthofa Abdullah bin Nuh yang merupakan putra bungsu dari Almarhum Mama Kiai Abdullah bin Nuh.

Habib Umar Majalaya datang ditemani oleh Ust Atep Ruhiyat, Kiai Hasan Sadzili dan Wakil Bendahara Aswaja NU Jawa Barat, H Abdul Hadi Hasan, selain itu hadir pula Ust Gina pengurus Garda NU Bogor Raya dan dua sahabat Banser.

Kedatangan Habib Umar diterima langsung oleh Mantu Kiai Musthofa yang bernama Ustadz Turmudi Hudri. Beberapa cangkir kosong mulai disediakan diatas meja tamu plus satu teko berisi air teh dan satu teko berisi kopi panas.

Para tamu mulai dipersilahkan menikmati teh dan kopi panasnya. Tidak lama kemudian Kiai Musthofa keluar dan langsung melantunkan Thola’al Badru, tanda betapa bahagianya kedatangan Habib Umar Majalaya.

Habib Umar Majalaya bersama KH Musthofa Abdullah bin Nuh 

Habib Umar Majalaya sontak langsung berdiri dan berpelukan. Kehangatan, keakraban memenuhi suasana silaturahim Kiai Musthofa yang akrab disebut Kiai Toto mulai bercerita terkait kondisi terkini Indonesia dan Habib Umar Majalaya mengimbanginya dengan menceritakan dakwah blusukannya.

Habib Umar Majalaya sesekali menceritakan pengalamannya saat dahulu menemui Mama KH Abdullah bin Nuh, menurut Habib Umar beliau seorang waliyullah dan Ulama intelek kelas internasional.

” Suatu hari ana datang, Mama KH Abdullah bin Nuh tengah dicukur, ana nyeletuk dalam hati” wah Kiai sudah tua yah.” Sontak Mama menjawab, “Leres Habib Abdi tos sepuh.!” Padahal jarak Habib cukup jauh. “Beliau memang wali.” Tegas Habib.

Habib melanjutkan ceritanya bahwa gurunya yang bernama Almarhum Sayidil Walid Habib Abdurahman bin Ahmad Assegaff pernah berguru kepada Mama KH Abdullah bin Nuh, sedang gurunya yang Lain Almarhum Habib Hamid bin Alwi bin Hud Alatas tiada lain adalah sahabat Mama Kiai.

Obrolan dilanjutkan dengan pengalaman Habib Umar Majalaya yang begitu mencintai kiai, dirinya tidak hanya mengaji tapi membaca beragam karya Mama KH Abdullah bin Nuh. Tidak lama Kiai Toto dan Ustadz Turmudi mengeluarkan beberapa koleksi karya Mama Abdullah bin Nuh.

Diantara karya yang ditunjukan adalah Ana Muslim Ana Syafi’i, Keutamaan Keluarga Nabi, Buku kumpulan syair karya Mama Abdullah bin Nuh, Muharam dan Sayidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, Laa Thooifata Fil Islam, dll.

Ustadz turmudi menuturkan bahwa beberapa manuskrip dan buku karya Mama lainnya akan terus dijaga kelestariannya, dengan menerjemahkannya, mencetak ulang dan menyebarluaskannya kepada par pecintanya. Ustadz turmudi menuturkan bahwa kitab yang ditulis oleh Mama KH Abdullah bin Nuh tidak hanya terkait tentang agama, tapi juga sastra, ekonomi, politik,budaya, dll.

Diakhir pertemuan Kiai Musthofa mempersilakan Habib Umar Majalaya untuk membacakan doa, seluruh hadirin yang ada sontak berdiri dan mengangkat kedua tangannya. Pasca bersalaman Habib melanjutkan perjalanan menuju ke Komplek Makam Kramat Empang untuk berziarah dan mengikuti pengajian umum disana. ( Hady/Santri Noesantara).