Catatan Kiai Maman Imanulhaq, “Selamat Jalan Kang Hasan Ma’arif, Mantan Pengurus PW LTN NU Jabar.”

Jenazah Kang H. Hasan Ma’arif saat akan dishalatkan 

Hasan Maarif

Awal pengabdian di Al-Mizan Jatiwangi saya tidak memiliki banyak kawan.

Hanya beberapa orang yang akhirnya dipertemukan Allah menjadi “jalan” untuk mengelaborasi potensiku n menguatkan visi misi Al-Mizan sebagai lembaga pendidikan, sosial dan dakwah.

Ada dua nama penting yang harus saya sebut: Sulki Suradinata dan Hasan Maarif.

Pak Sulki adalah seorang akademisi. Ia mengajar sastra inggris. Saya sering ke rumahnya di samping SMA Jatiwangi untuk konsultasi, belajar bahasa dan minta bantuan dana.

Di usia lanjutnya, Pak Sulki adalah seorang yang bijak n visioner. Setiap menyimak khutbahku di Al-Mizan ia selalu ngajak saya diskusi tentang pemikiran progessif Cak Nur, Gus Dur, Cak Nun, Mas Tom dan banyak tokoh lain.

“ Suatu saat, Cep Maman akan dekat dengan mereka. Dan akan jadi orang hebat di negeri ini”, ucap Pak Sulki saat bersalaman di moment Idul Fitri.

Saya hanya bilang “amin”.

Sangat tidak mungkin sebagai santri yang merintis pesantren di daerah bisa kenal dekat dengan tokoh-tokoh besar seperti mereka. Sangat sulit dibayangkan, saya bisa terkenal di negeri ini: akses dari mana? Bagaimana caranya? Harus jadi apa?? Ikut siapa? Dari mana mulai nya?. Ah, itu hanya motivasi sesepuh yang tulus dan bijak aja.

Pak Sulki pun berkenan jadi Pembina Yayasan Al-Mizan Jatiwangi.

Pak Sulki selalu membeli “Tahu Sumedang” di kiosku, saat saya berusaha dagang untuk menyokong ekonomi keluarga kecilku.

Saat bisnis Tahu Sumedang bangkrut, saya jualan buku. Pak Sulki membeli buku “Abu Bakar Sidik” yang tebal.

“ Cep, punten buku na candak ka bumi. Sekalian diskusi”, katanya.

Itulah pertemuan terakhir dengannya. Pak Sulki wafat. Semua motivasi, visioner dan kewaskitaannya soal diriku dan Pesantren Al-Mizan Jatiwangi terbukti.

Itulah kekuatan doa dan motivasi seorang Sulki Suradinata: orang tua kami tercinta.

Saat saya butuh teman diskusi soal Pesantren, NU dan Indonesia, hadirlah Pak Hasan Maarif.

Sebagai seorang jurnalis, Pak Hasan memotivasi saya untuk menulis. Tulisanku yang masih amburadul dieditnya dan dimuat di Koran PR Cirebon.

Ia pun menginisiasi pelatihan jurnalistik di Al-Mizan. Menghadirkan Para Petinggi PR seperti Pak Syafik di acara Festival Al-Mizan yang digagasnya bersama budayawan Ahmad Syubbanuddin Alwy, Acep Zamzam Noor, Taufik Rahzen dll.

Kang Hasan Ma’arif saat tengah dirawat

Berkali-kali Pak Hasan berkomunikasi dengan saya saat moment pilkada.

Jasa terbesar Pak Hasan adalah mempertemukan saya dengan KH Mas Zaenal Muhyiddin Mas Atep di acara LTN. Kemudian keliling ke Para Kyai seperti KH. Abdullah Abas dan KH. Fuad Hasyim di Buntet.

Berkahnya, Mas Zaenal menikah dengan Hj Dede Masyitoh. Sekarang Mas Zaenal dan Bu Dede menjadi soko utama Pesantren Al-Mizan.

Itu semua jasa Pak Hasan.

Saya tidak sempat menengoknya saat sakit. Hingga masuk WA,

“ Inna lillaahi wainna ilayhi raaji’uun, H. Hasan Ma’arif ( mantan PW LTN NU Jabar & Wartawan PR), Selasa (23/07/19) jam 05.15 wib di RSUD Majalengka”.

Mereka pergi. Mereka memberi arti.
Jejak mereka, makna kehidupan kita.

This world—
to what may I liken it?
To autumn fields
lit dimly in the dusk
by lightning flashes.

Tebet, 23/7 2019

CaritaKangMaman

Al-Fatihah!

Sumber FB KH Maman Imanulhaq 

Redaksi ( Hady/santri Noesantara)