Ribuan Nahdliyin Banten Istigotsah Bersama Habib Umar bin Husein Assegaff Majalaya dan Abuya KH Muhtadi

Abuya Muhtadi dan Habib Umar bin Husein Assegaff Majalaya 

Tanggerang ( Santri Noesantara) – Habib Umar bin Husein Assegaff Majalaya dan Abuya KH Muhtadi Dimyathi duet dakwah blusukan di Curug, Tanggerang, Propinsi Banten, Ahad (13/1) 

Musibah dan cobaan yang datang bertubi-tubi dan menimpa saudara kita merupakan sebuah akibat, yang kemunculannya disebabkan oleh banyak faktor.

Hal itu diungkap Habib Umar Majalaya di hadapan Ribuan Nahdliyin Tanggerang yang hadir memadati lapangan tempat acara Istigotsah kubro berlangsung.

“Maksiat dengan bangga dilakukan oleh sebagian penduduk yang kurang bertakwa dan beriman kepada Allah swt, itu penyebab pertama. Kedua, adanya para pemimpin, pejabat yang dzalim dan ketiga para ulama yang tidak mencintai santri dan muridnya, mereka lebih cinta kepada kandidat yang didukungnya sehingga rela menyakiti ulama dengan menyematkan kata-kata “buruk, munafik, su’.” Ucap habib yang merupakan Wakil Ketua LDNU Jawa Barat.

Perbuatan itu jelas menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat awam, sementara kiainya telah bertentangan dengan apa yang diajarkan Rasul, dimana Rasul Saw dalam berbicara penuh kelembutan, berakhlak mulia, dan hatinya selalu lapang.

“Penyebab keempat, kaum wanitanya tanpa malu mempertontonkan auratnya, maka jangan heran Apabila Swt memberi teguran kepada sebagian penduduk Indonesia dengan musibah dan lainnya.” Tegas Habib Umar Majalaya yang juga Ketua Gerakan Nasional Anti kekerasan dan Intoleransi GENERASI.

Habib Umar Majalaya melanjutkan bahwa Ulama dan Kiai serta masyarakat Curug malam tadi berinisiatif melakukan taubat masal, beristigfar, memohon pertolongan kepada Allah Swt dan bersholawat kepada Rasul Saw, demi menyadarkan umat dan mengharap keselamatan. 

Pada kesempatan yang sama Habib menyatakan bahwa Dunia akan kokoh dan aman apabila ditopang dengan 4 pilar, pertama Ulama yang mengamalkan Alquran dan Sunnah, mengikuti ajaran ulama terdahulu yang Sholeh. Kedua, hadirnya pemimpin yang adil. Ketiga, Keberadaan Orang kaya yang dermawan, dan keempat doa Fakir miskin.

” Semua 4 pilar tersebut harus bersinergi, para pemimpin dengan masyarakatnya bersatu, para pejabat negara dan wakil rakyat harus melahirkan kebijakan yang baik, mensejahterakan masyarakat di wilayah yang mereka kuasai, Orang kaya dan pengusahanya harus memberikan perhatian dan dermawan kepada yang membutuhkan.” lugas Habib yang dikenal sebagai murid Almarhum Habib Hamid bin Alwi bin Hud Alatas dan Ajengan Emet Bandung.

Terakhir dalam penutupnya, Habib menyatakan bahwa Doa seorang fakir dan miskin juga penentu kedamaian dan keselamatan suatu Negeri, Doanya mereka diijabah karena mereka diumpakan jaraknya dekat dengan Allah Swt. 

( Santri Noesantara/Hady)