RAMADHAN SEBAGAI PENGENDALI NAFSU HOAX DAN CHAOS DEMOKRASI


Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru NU, Aris Adi Leksono, M.M.Pd

Sebagaimana keterangan dalam kitab hikmatut tasyri’ wa falsafatuhu karya Ali Akhmad Al-Jarjawi, dijelasakan bahwa puasa Ramadhan diwajibjab oleh Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-2 hijriyah. Dalam kitab tersebut juga disebutkan, diantara hikmah disyari’atkan puasa adalah untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, selain itu juga untuk membedakan antara manusia dan hewan. Manusia lebih mulia di hadapan Allah karena karunia akal yang dapat mengendalikan hawa nafsunya untuk melakukan perbuatan yang lebih baik, dalam perpekstif ketuhanan maupun kemanusiaan. Hewan hanya akan mengikuti kemauannya tanpa kendali, serta berfikir kemanfaatan dan kemadharatan, baik di hadapan Allah SWT atau makluk sesamanya.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 183, secara umum Allah SWT juga menegaskan tentang tujuan disyari’atkan puasa dengan firman-Nya “wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, supaya kalian bertaqwa”. Dengan satu kata “taqwa”, tersimpan sejuta pesan untuk menggambarkan tujuan puasa Ramadhan. Dalam ayat dan surat lain, Allah SWT memberikan penjelasan tentang makna taqwa dengan menyebutkan indikator orang-orang yang betaqwa “muttaqin”, baik indikator yang berhubungan dengan memperkuat nilai-nilai “kehambaan” kepada Allah SWT, maupun nilai kemanusiaan kepada sesamanya.

Dalam kitab tafsir Ibnu kasir dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa ciri orang bertaqwa “muttaqin” dalam Q.S. Al-Baqoroh (2) ayat 1-2, yang memiliki korelasi langsung kepada Allah (hablun min Allah) adalah orang-orang yang takut mendapatkan hukuman dari Allah dikala meninggalkan hidayah yang mereka ketahui, dan mengharapkan rahmat-Nya dikala mengakui akan kebenaran apapun yang datang dari-Nya. Artinya jika puasa Ramadhan diharapakan mampu membentuk nilai ketakawan, maka sesungguhnya orang yang perpuasa akan senantiasa berusaha dekat dengan Allah SWT, dengan memperbanyak ibadah, baik ibadah makhdoh maupun ghoiru makhdoh. Dengan kata lain, dia akan menghindarkan diri dari nilai yang dapat menjauhkan diri kepada Allah SWT, dengan senantiasa mengatakan dan mengakui yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, bukan malah memutarbalikkan yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Esensi ibadah yang dilakukan secara istiqomah berbuah suburnya nilai kemanusian untuk ketentraman sesamanya, bukan malah menjadi ancaman dan ketakutan bagi sesamanya.

Dalam Q.S Ali Imran [3]: 133–134, Allah juga menjelaskan beberapa ciri lain dari orang bertakwa. “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan menggapai surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (ke salahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik,”). Ayat tersebut memberikan pesan bahwa orang yang disebut “muttaqin” bukan sekedar memiliki hubungan baik kepada Allah SWT, tapi juga memiliki hubungan baik dengan sesamanya. Ketakwaan tidak hanya diukur lewat ibadah ritual kepada Allah SWT semata. Namun, juga lewat ibadah sosial, yaitu berbagi dengan sesama. Ibadah sosial di sini bisa dalam bentuk membantu tetangga yang terkena musibah ataupun sedekah makanan walau hanya sebiji kurma. Di samping itu, ketakwaan seseorang juga dapat diukur dari sifat pemaafnya terhadap sesama.

Arti dan tafsir ayat dari kedua surat tersebut jika dihubungkan dengan tujuan utama puasa “membentuk pribadi bertaqwa”, maka sesungguhnya puasa Ramadhan akan mewujudkan jati diri manusia yang istiqomah dalam beribadah kepada Allah SWT, yang akhirnya akan berbuah pada kesalehan sosial. Jangankan menyakiti secara fisik, berkata tidak benar (hoax) dia akan menghindari, ujaran kebencian (hate speech) dia akan menjauhi, apalagi sampai melakukan perbuatan yang dapat menyakiti orang lain atau kekacauan (chaos), pasti dia tidak akan melakukan.

Mengaitkan nilai puasa Ramadhan, pribadi manuasia yang bertaqwa, dan berita bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech), dan isu kekacauan (chaos) jelang pengumuman hasil pemilu 2019, seakan mengajak untuk merefleksikan diri akan buah, hikmah atau manfaat puasa Ramadhan yang kita lakukan. Apakah puasa Ramadhan sudah membawa pribadi kita bertaqwa atau belum?, Apakah puasa kita sudah dapat menumbuhkan cinta “mahabbah” kepada Allah SWT atau belum?, Apakah puasa kita sudah membentuk pribadi yang berkeshalehan sosial atau belum?, atau justru puasa Ramadhan kita akan berbuah laknat, akibat dari ketidak mampuan kita dalam menaklukkan nafsu hayawaniyah?. Allah SWT maha tahu atas kualiatas ibadah puasa yang kita lakukan, dan hanya Allah SWT yang berhak membalasnya.

Jawaban sejumlah pertanyaan yang membawa pada refleksi diri untuk meningkatkan kualitas puasa Ramadhan, sehingga berbuah pada ketakwaan kepada Allah SWT dan kesalehan sosial, harus dibuktikan dengan tindakan. Salah satunya dalam merespon hasil pemilu 2019, puasa Ramadhan yang dilalukan harus mampu menghadirkan kebahagian, kedamaian, dan kesejukan bagi diri dan sesamanya sebagaimana janji Allah dan Rasulnya atas balasan dua kebahagian bagi orang yang berpuasa, yaitu yaitu kegembiraa ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya.

Puasa Ramadhan yang dilakukan penuh keikhlasan harus mampu mengendalikan nafsu dari berkata tidak benar (hoax), apalagi berujar kebencian (hate speech) yang dapat menyakiti orang lain. Bukankah Allah SWT dan Rasul-Nya sudah memerintahkan untuk meninggalkan semua yang menyebabkan berkurangnya pahala puasa seperti; melakukan rafats (perbuatan keji), berteriak-teriak (bertengkar) dan mengerjakan atau mengucapkan kata-kata yang diharamkan, menjauhi semua bentuk kemasiatan, pertengkaran dan berbantah-bantahan yang menimbulkan permusuhan.

Sebagaimana disebutkan dalam Hadis Riwayat Bukhori:1904, Rasulullah Muhammad SAW bersabda; “Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa”.

Dalam penjelasan hadis disebutkan, Nabi Muhammad SAW berkata “maka janganlah berkata kotor”, yakni janganlah berbicara dengan kata-kata yang buruk; dan kata “jangan ribut bertengkar”, yaitu dengan kata-kata yang menimbulkan fitnah dan pertengkaran. Sebagaimana diterangkan dalam hadits lain, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta bahkan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”.

Pada keterangan lain, Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsabandiyah al-Utsmaniyah, K.H. Ahmad Asrori Al-Ishaqi r.a berkata bahwa salah satu alat pengendali nafsu ammarah adalah dengan bepuasa. Perbuatan yang dapat mengganggu kedamaian dan ketentrmana umum adalah bentuk mengumbar nafsu ammarah dan merusak esensi dan tujuan puasa Ramadhan. Isu aksi kedaulatan rakyat yang sebelumnya diistilahkan dengan people power telah menimbulkan keresahan di tegah masyarakat, apalagi dengan indikasi akan disusupi gerakan terorisme dan bermuatan chaos merupakan indikasi dorongan nafsu ammarah. Hal itu tentu akan merusak esensi dan tujuan disyari’atkan puasa Ramadhan.

Seharusnya kita bersyukur atas nikmat persatuan, nikmat dapat menjalankan pemilu dengan damai, sebagaimana hikmah puasa dalam kitab hikmatut tasyri’ wa falsafahtuhu. Seharusnya dengan berpuasa kita menjadi pribadi yang bertaqwa, dengan menahan nafsu dari berkata tidak benar, menahan dari ujaran kebencian, dan perbuatan yang tidak humanis lainnya, sebagaimana ciri-ciri orang bertaqwa dalam Q.S Al-Baqarah dan Ali Imron. Bukankah menjalankan nilai agama yang kaffah akan mebentuk jati diri kemanusiaan yang lebih humanis?. Wallahu ‘Alam bis Sowab wal Khoto’

( Santri Noesantara/Aris Adi Leksono).