Peringatan Hari Santri Nasional, Pergunu Depok kaji pemikiran Ulama Betawi

Ahad sore kemarin, 20 Oktober 2019 Pondok Pesantren Putri Al-Awwabin Bedahan Sawangan Kota Depok bekerjasama dengan Forum Silaturrahim Alumni Pondok Pesantren Putri Al-Awwabin (FORSAPPA), Ikatan Alumni Al-Awwabin Depok (IKAAD), dan badan otonom Nahdlatul Ulama Kota Depok, di antaranya Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kota Depok, dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kota Depok.

Kerjasama itu dilakukan dalam bentuk Dzikir, Shalawat dan Diskusi/Bedah Pemikiran Ahlussunnah Wal Jamaah Abuya KH. Abdurrahman Nawi dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2019.

Ust. Darul Quthni saat menyampaikan kajian

Tampak hadir dalam acara itu para pengurus Pesantren Al-Awwabin Putri, FORSAPPA, IKAAD, IPPNU, PERGUNU dan ANSOR-BANSER Kota Depok.

Acara dimulai dengan pembacaan Dzikir Asyiyyatal Khomis yang disusun oleh Pimpinan Umum Pondok Pesantren Al-Awwabin, Abuya KH. Abdurrahman Nawi dan shalawat Nariyah yang dipimpin oleh Al-Ustadz Darul Qutni, S.S.I (Departemen Pendidikan dan Dakwah Pergunu Depok serta Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Putri Al-Awwabin).

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Diskusi dan Bedah Buku: Pedoman Ziarah Kubur dan Misykatul Anwar Fi Haflati Maulidil Akhyar yang disusun oleh Abuya KH. Abdurrahman Nawi (ulama Betawi Depok). Narasumber didatangkan dari Tangerang, yaitu salah satu alumni terbaik Al-Awwabin, Al-Ustadz Djauharul Bar, M.Ag yang menggagas berdirinya Abuya Nawi Studies (Lembaga Studi dan Dokumentasi Abuya KH. Abdurrahman Nawi). Lembaga kultural yang bergerak di bidang pengembangan pemikiran dan tradisi intelektual Abuya KH. Abdurrahman Nawi.

Dalam diskusi tersebut dihasilkan beberapa poin : Pertama, Abuya KH. Abdurrahman Nawi memiliki hubungan yang erat dengan NU. Menurut Djauharul Bar yang juga aktifis Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Tangerang ini, Abuya adalah salah satu penggerak Apel Akbar Jutaan warga NU di Senayan pada tahun 1990-an. Abuya saat mudanya juga pernah mengajar di Masjid PBNU. Hal ini juga diakui oleh mantan ajudan Gus Dur yang tinggal di Depok almarhum Bapak Shomad. Abuya KH. Abdurrahman Nawi juga pernah mengikuti berbagai Muktamar NU dan menjadi pengurus NU baik di DKI Jakarta maupun Kota Depok. Menjadi penceramah Maulid Nabi SAW di Masjid Al-Munawwarah Gus Dur Ciganjur dan Pembaca Doa di Haul 1 Abad KH. Abdul Wahid Hasyim di Masjid At-Tin TMII Jakarta. Saat perayaan Maulid Nabi SAW di Habib Novel Jindan, pada tahun 90-an, Abuya Nawi tampak akrab dengan cucu pendiri Nahdlatul Ulama, yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Abuya Nawi juga bersama Habaib Jakarta pernah membuat ormas bernama Persatuan Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah dan Dai Islam Indonesia (PUAADII) yang katanya merupakan saudara kandung Nahdlatul Ulama (NU).

Poin kedua, bahwa amaliyah Ahlussunnah Wal Jamaah yang berjalan di masyarakat saat ini, yaitu Tahlilan, Tawassul, dll memiliki muwafaqoh (kesesuaian) dengan al Qur’an dan Hadis. Di antaranya, persoalan belum putusnya antara orang yang meninggal dan orang yang mati dan masih dapat memberikan manfaat. Dalilnya adalah yang dicantumkan oleh Abuya KH. Abdurrahman Nawi yaitu dalam kitabnya Pedoman Ziarah Kubur, Halaman 31-32, yaitu al Quran surah Al Hasyr: 10, dan Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim dan Imam An Nasaiy yang menyatakan seorang ibu yang meninggal dapat hadiah pahala shadaqah dari anaknya yang masih hidup. Begitu juga orang yang meninggal yang memiliki hutang puasa dapat digantikan oleh walinya. Sehingga hutang puasanya dapat dilunasi oleh orang lain.

Poin ketiga, yaitu istilah Ahlussunnah Wal Jama’ah diambil dari Hadis Rasulullah SAW: “Barang siapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW, maka dia meninggal dalam aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sebagaimana dituturkan oleh al Habib Lutfi bin Yahya (Ketua Forum Sufi Dunia) dalam bukunya Secercah Tinta karya Halaman 149).

Poin Keempat, penulis kitab Abuya ada tiga, baik melalui tulis tangan maupun komputer yaitu Bapak Adib, KH. Zaimuddin dan Ust. Ahmad Hafidz Kamil. Metode penulisannya yaitu dengan cara Abuya mendiktekan dan membawa rujukan kitab. Kemudian diolah oleh para penulisnya. Dan guru pertama Abuya KH. Abdurrahman Nawi adalah Guru Siman Muallimil Qur’an yang mengajar alif-alifan.
Acara ditutup saat datang Waktu Adzan Magrib dan diakhiri dengan foto bersama dan pemberian Kenang-kenangan Buku oleh perwakilan Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kota Depok yaitu sahabati Fatimah kepada narasumber : Djauharul Bar, M.Ag. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2019 yang diadakan Pondok Pesantren Al-Awwabin Putri Bedahan bekerjasama dengan para alumni dan Badan Otonom (BANOM) PCNU Kota Depok, yaitu IPPNU, GP Ansor, Satkoryon Banser Sawangan dan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kota Depok.