Pergunu Depok Cipta Kedamaian dan Kerukunan Antar Umat Beragama

Bogor ( Santri Noesantara  )  – Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, Pergunu senantiasa mengikuti visi induknya yaitu menjaga dan menyampaikan Islam yang ramah dan toleran. Guru memiliki peranan yang sangat penting di lingkungan masyarakat,  jangan heran jika sebagian besar dari mereka pun ditokohkan karena sikapnya yang digugu dan ditiru.

Hal itu diungkap oleh ketua Pergunu Kota Depok, Ust. Acep Pudoli, M.Pd dalam acara Kajian Dwi Mingguan Departemen Pendidikan Dan Dakwah Pergunu Kota Depok di Yayayan Al Ittihad Al Islami, Citayam Desa Ragajaya, Kec. Bojong Gede, Kab. Bogor Jawa Barat.

sementara Ketua Departemen Pendidikan Dan Dakwah Pergunu Kota Depok, Ust. Darul Qutni, S.S.I dalam kata sambutannya menyatakan bahwa Kajian Dwi Mingguan ini merupakan acara ke 2, setelah acara perdana yang diadakan di Majelis Taklim Al Ibthon, Pitara, Kota Depok. “Kajian ini akan terus kita ramaikan dan dilaksanakan dengan berpindah dari berbagai Yayasan, Masjid, Majelis, Sekolah, Pondok Pesantren, dll.” Ucap Ust. Darul yang pernah nyantri langsung kepada Almarhum Gusdur.

Kajian Dwi Mingguan Pergunu Ahad (16/12) ini mengangkat tema, ” Peran Guru dan Penyuluh Agama Dalam Menjaga Kerukunan Umat Beragama.” Hadir sebagai pembicara Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam FKPAI Kota Depok, Ust. Abdullah Hajar, MA dan Ketua Forum Silaturahim Umat Islam Indonesia, H. Abdul Hadi Hasan,Lc.

Ust. Abdullah Hajar, MA tengah menyampaikan visi misi FKPAI

Ust. Abdullah menyampaikan bahwa Guru dan penyuluh merupakan ujung tombak kerukunan umat beragama. ” Guru harus lebih terdepan dalam menyampaikan kajian dan arahan ramah demi mencipta kerukunan antar umat beragama.” Kata Ustadz yang juga aktif sebagai Dosen di Jakarta.

Video Paparan Ust. Abdullah Hajar, MA

beliau melanjutkan bahwa para Guru dan penyuluh harus memahami visi kerukunan umat beragama, yaitu  terwujudnya manusia yang beriman, bertakwa, mengetahui, meyakini dan menikmati ajaran agama yang dianutnya serta pada saat yang sama mengakui dan menghormati adanya keragaman keyakinan yang dianut orang lain.

dan Ketua FSUII, H. Abdul Hadi Hasan, Lc melengkapi kajian dengan membuka latar historis kerukunan dan keberagaman yang terjadi di masa Rasul saw. menurutnya apapun yang kita perjuangkan harus sesuai dan mencontoh Rasul saw. ” Kita bisa membuka lembaran Al Quran dan Hadis, dimana banyak nilai-nilai sakral yang patut dikaji, difahami secara mendalam, jangan sebatas memahami konteksnya saja. Wahyu dari Allah telah dipraktikan secara sempurna oleh Rasul, maka kitapun harus tunduk patuh mengikutinya.” Tegas Ust. Hadi yang juga aktif di Lembaga Takmir Masjid LTM NU Kab. Bogor.

dirinya juga menceritakan bagaimana perjuangan Rasul saw dalam mencipta kedamaian dan kerukunan di Kota Madinah dan Makkah. ” Kita terkesan Eksklusif dalam memahami kalimat tauhid, tapi pada tataran sosial praktis kita dapat memahami arti nilai indahnya kalimat tersebut dengan memahami historis keberagaman dan kerukunan dari kehidupan Rasul saw di Madinah yang berdampingan dengan Yahudi dan Kejadian diskusi Rasul dengan Kaum Nasrani Najran yang diabadikan dalam Al Quran, Surat Ali Imran Ayat 61.” Papar Ust. Hadi yang biasa aktif menulis dan menerjemah buku sejarah.

turut meramaikan acara ketua Lembaga Takmir Masjid LTM NU Bogor, H. Agus Riadi dan Aktifis Keberagaman dari Gereja Katolik Paroki Kota Depok, Mas Adi dan berbagai Aktifitas Pendidikan dari Bogor, Depok, Jakarta dan Bekasi. 

Video H, Abdul Hadi Hasan, Lc – Sejarah Rasul Mencipta Kerukunan dalam Keberagaman

(Santri Noesantara/Murtadha)