Niat Puasa Ramadhan menurut Imam empat Mazhab Sunni

Niat merupakan satu hal yang sangat krusial dalam setiap melaksanakan ibadah. Khususnya ibadah puasa Ramadhan. Sebagaimana hadis Nabi Saw. “sesungguhnya sahnya amal ibadah adalah digantungkan kepada niat”. (HR. Al Bukhari dan Muslim). Sehingga niat puasa menjadi kunci sahnya ibadah puasa.

Nabi Saw. bersabda:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.”

Soal niat puasa Ramadhan, ada berbagai pendapat di kalangan ulama Sunni, terutama Imam empat Mazhab yang menjadi banyak rujukan di dunia Islam pada umumnya.

Imam Syafi’i mensyaratkan niat dilakukan pada malam hari, yakni harus bermalam, dan dilakukan setiap malam. Mazhab Syafi’i mayoritas diikuti kaum Muslimin di Asia Tenggara, Mesir, sebagian India dan Pakistan.

Sementara itu, Imam Abu Hanifah berpendapat, cukup berniat berpuasa sebulan penuh di malam pertama Ramadhan.

Bagaimana niat itu dilafazkan atau cukup dalam hati. Umumnya keempat mazhab-Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal-mensyaratkan dilafazkan atau diucapkan dengan lisan.

Mazhab Hanbali tidak beda dari Imam Syafi’i, ini mengharuskan niat dilakukan pada malam hari, untuk semua jenis puasa wajib.

Abu Muhammad Bagir