Menelusuri Jejak Islam ditanah Sunda: Kampung Budaya Sindang Barang

Menarik sekali setelah mendengar paparan dari kepala suku adat di kampung Budaya Sindang Barang Bogor, sebuah kampung yang terletak 40 KM dari pusat ibukota Indonesia, perjalanan 2 jam dipagi hari, memasuki kota Bogor sediki menembus ke kampung dan pesawahan lahan padi dan ladang sayur mayur, agak sedikit menanjak naik turun beberapa bukit untuk mencapai lokasi.

Dipintu gerbang Kampung wisata terdapat gapura dan tepat diatasnya terbentang kain warna merah putih bendera Indonesia, memasuki gapura sudah siap menyambut alunan musik tradisional yang dimainkan oleh beberapa ibu-ibu dengan pakaian adat setempat dan alat musik yang sederhana.

Tabukan alat musik yg terbuat dari bambu patung, seruling dan angklung itu menghiasi suasana Desa yang asri dan berjejer dengan rapih sunah adat yang terusun seakan memanjakan mata untuk memandangnya, lebih keren lagi letak tata arsitektur bangunan yang rugi kalau dilewatkan untuk sekedar Selfi-selfi dengan Smarth Phone.

Abah Ukat Sukatma, yang mewakili Kepala suku kampung tersebut sedikit menjelaskan, salah satu cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan, kampung budaya ini karena warisan para penyebar Islam yang pertama masuk ke tanah Sunda, pada Abad ke-12 ajaran Islam dibawa oleh para Ulama.

Sedikit riwayat yang ditemukan dengan arsip bukti-bukti sejarah, banyak hanya dari cerita orang tua dulu, pada saat Pakuan Padjajaran perang semua anggota kerajaan Galuh meninggal kecuali ada satu yang pada waktu iti berumur 9 tahun dan tidak ikut, Dzurriyah atau keturunan Raja Galun yang tersisa ini akhirnya begitu dewasa memiliki dua anak, yang pertama Wastu Kencana ini yang meneruskan tahkta kerajaan Galuh, dan yang kedua Susuk Tunggal yang dioper ke Sindang Barang yang akhirnya menjadi cikal bakal Kampung Budaya Sindang Barang.