Kearifan Lokal dan Liburan Menurut Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib

Ilustrasi Liburan di Alam terbuka, menikmati keindahannya ciptaan Allah SWT 

Liburan lebaran memberi banyak kesan dan pesan tersendiri bagi masyarakat muslim Indonesia. Sehingga tidak sedikit masyarakat muslim Indonesia memanfaatkan liburan ini untuk mengisinya dengan berbagai agenda, dari mulai yang wajib sampai yang sunnah sudah teragendakan.

Tidak lah mengapa! karena itu bagian dari tradisi yang tak bisa kita pungkiri apalagi kita hindari sebagai makhluk sosial yang tak terlepas dari akar kesejarahan yang panjang dan sangat membumi serta sudah mentradisi, dari mulai mudik, bersilaturrahmi hingga berwisata ada jejak tradisi/sunnah nya.

Liburan kali ini merupakan liburan yang panjang; libur puasa, libur sekolah, libur lebaran. Setelah letih lelah beraktifitas selama berpuasa, sekolah, bekerja sudah seyogyanya mereka berlibur, berwisata ria, berkumpul bersama sanak famili dan aktifitas lainnya hanya untuk bersenang – senang, bergembira dengan berkumpul bersama keluarga, menikmati pemandangan dan alam sekitar.

Selain itu ada pula yang ke kota, ada yang blusukan ke desa dan ada pula yang membuat acara di rumah sendiri dan ragam acara lainnya. Sasaran yang dituju beragam macamnnya, tapi intinya bersilaturrahim dan sekedar refreshing, mencari hiburan, seru- seruan, senang -senang dan ada juga yang merenung.

Ini semua tidak lepas dari naluri atau fitrah manusia, oleh karenanya tidak ada larangan artinya bisa dilakukan selama tidak terlena. Sebaliknya liburan dan mencari hiburan yang mengakibatkan terbengkalainya aktifitas tanggungjawab, ini yang tidak di benarkan dalam islam.

Karena setelah itu kita memiliki tanggungjawab atas segala aktifitas positif lainnya untuk memakmurkan bumi. Yang bekerja kembali bekerja, yang sekolah kembali belajar, yang sedang membangun kembali membangun, yang sedang dan beraktifitas lain sebagai khalifah fil Ard, untuk memakmurkan bumi melanjutkan karyanya.

Dengan demikian berwisata dan mudik diajarkan dan di anjurkan oleh Islam selama tujuannya positif itu dan direstui agama. Paling tidak! kita tidak berbuat kedurhakaan.

Sayidina Ali pernah berdendang:” tinggalkanlah negeri untuk mencari kejayaan dan berwisatalah karena disana ada 5 manfaat.”

  1. Menghilangkan gelisah
  2. Meraih kehidupan
  3. Meraih ilmu
  4. Meraih adab
  5. Dan pertemanan.                            

Dengan berkumpul sanak famili dan berwisata; hati terhibur, hati dapat lebih jernih, wawasan dapat bertambah, dapat banyak pelajaran dari setiap fenomena alam dan sejarah dapat kita ketahui dengan jelas.
Agama menganjurkan untuk menyisihkan sebagian masa hidupnya, tenaganya, pikirannya dan uangnya untuk berwisata.

Nabi Isa dinamai al Masih yang berarti “yang berwisata”, karena Nabi Isa sangat gemar berwisata. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari taman ke taman lain untuk menjernihkan hati, mengambil serta memberi pelajaran.


Berwisatalah muda – mudi untuk menjernihkan hati, mengambil serta memberi pelajaran dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan.

Ustadz Lukman Hakim, Pergunu Kabupaten Bogor

( Santri Noesantara/ Haedar/ Lukman Hakim)