Lebaran pertama di Mesir ala Mahasiswa Qotrun Nada

Hari raya Idul Fitri adalah momentum kebahagiaan bagi kaum muslimin diseluruh Dunia, setelah sebulan penuh menjalankan rukun Islam yang ke-3, ibadah Puasa, menahan lapar dan haus, terlebih menurut Imam Ghazali Puasa adalah Ibadah Spiritual menahan ssifat ego yang ada didalam diri manusia, tarbiyatun nafs mengolah diri secara ruhani.

Kebahagiaan hari raya ditahun ini berbeda dapat dirasakan oleh para Santri-santri Pondok Pesantren Qotrun Nada yang baru 6 bulan berada di Mesir, tepatnya di Cairo Universitas Al Azhar Syarif, sekitar 15 santri yang melanjutkan ke jenjang Universitas tahun ini dan merasakan momentum Lebaran yang berbeda dengan tahun-tahun lalu.

Mahasiswa Qotrun Nada didepan Masjid Benteng Sholahuddin

Tahun ini (5/6/19) para Mahasiswa Indonesia merasakan berlebaran di Mesir, usai melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Qol’ah Sholahudin Al-ayyubi, masjid peninggalan panglima Sholahuddin al Ayyubi, atau biasa disebut masjid Benteng Al Ayyubi, Ikatan keluarga Qotrun Nada Mesir yang berjarak 10 menit dengan berjalan kaki dari asrama, berkumpul bersama ditaman.

Mereka berpose bersama dan mengambil kesempatan untuk saling video call menelpon sanak keluarganya yang berada di tanah air, dengan selisih waktu Indonesia dan Mesir 4 jam, saat di Mesir melaksanakan Shalat hari raya sedang di Indonesia sudah menunjukkan waktu dzuhur hampir jam 13.00 siang.

Suasana puasa di Mesir

Fathul Jalil Mahasiswa yang juga ketua Ikatan Keluarga Qotrun Nada merasakan suasana lebaran yang berbeda, kalau di Indonesia pas lebaran kita bisa saling kunjungan ke sanak keluarga, datang menziarahi makam saudara-saudara, tapi berbeda disini, kita menziarahi makam para Auliya Ulama yang ada disekitar, dengan berharap mendapat berkah, seperti makam Ibn Hajar Atsqolani, Sayyidah Nafisah binti Imam Hasan Al Anwar, Masjid Ro’sul Husein, Imam Syafii dan beberapa makam lain.

Selama Perkuliahan masih libur, kami memanfaatkan waktu untuk berkumpul, dan berziarah, sesekali mengunjungi kebun binatang dan sungai Nil yang legendaris itu.

Alhamdulillah usai tabarukan kepada Alim Ulama, kita liburan mengunjungi kebun binatang mesir dan Sungai Nail, selama ini hanya bisa dapat informasi dari buku bacaan mengenai kisah mesir dan sungai nil, tapi kali ini saya dapat langsung melihat salah satu tanda kebesaran Allah, yaitu sungai Nil yang dalam Al Quran menjadi kisah tentang legendaris Nabi Musa AS, ujar Zainab, Mahasiswi asal Bogor tersebut.

Mesir memang berbeda dengan Indonesia, tetapi ada kesamaan mengenai amaliyah ibadahnya yang kami rasakan seperti ibadah merujuk pada mazhab Imam Syafii yang juga berpaham mayoritas kaum muslimin di tanah air.