Kemdikbud Tarik Buku Ajar Yang Mendiskreditkan NU

┬áJakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendapatkan informasi disebut sebagai ‘organisasi radikal’ dalam melawan penjajah pada masa perang kemerdekaan dalam buku ajar untuk sekolah dasar. Meski frasa itu dikaitkan dalam kegiatan yang positif, PBNU tetap memprotes penggunaan ‘organisasi radikal’ dalam buku tersebut.

Sementara perwakilan LP Maarif PBNU melakukan rapat dengan jajaran Kemendikbud terjadi pada Rabu 6 januari 2019, antara pukul 14.00 – 16.00. pertemuan tersebut membahas protes keras buku ajar yang mencantumkan NU termasuk organisasi radikal.

Alhamdulillah semua tuntutan LP Maarif NU dipenuhi, yakni

  1. Buku tersebut ditarik dari peredaran dan dihentikan pencetakannya baik buku untuk murid maupun guru.
  2. Materi buku tersebut harus direvisi.
  3. Dilakukan mitigasi untuk mencegah penulisan buku yang tidak sesuai dengan fakta dan mendiskriditkan NU.
Buku Ajar yang mendiskreditkan NU

Kabar gembira ini tersebar di berbagai grup WhatsApp Nahdliyin, semua berharap hal tersebut tidak terulang.

NU sejak didirikan sebagaimana diketahui jelas untuk melawan faham radikal dan intoleran, Nahdliyin dan ulamanya bergerak menyampaikan Islam ramah dan mendamaikan.

Sementara Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Pergunu Kota Depok, Ust. Alwi Sahlan menyatakan dalam pesan whatsappnya bahwa generasi Millenial harus diberi asupan buku ajar yang positif dan sejarah Nusantara yang akurat.

” Jika ada orang menyandingkan kata ” Radikal” dengan NU, jelas orang tersebut tidak mengerti sejarah NU dan perjalanan terwujudnya NKRI. Generasi saat ini harus kenal NU, bahwa NU gerakan penuh Rahmat.” Ucap Kang Alwi Sahlan.

( Santri Noesantara/ Hady)