Hubungan NU dan Rabithah Alawiyah: Sebuah Perjanjian Para Pendahulu

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial kemasyarakatan menjalin hubungan dengan berbagai organisasi keislaman lainnya. Salah satunya dengan Rabithah Alawiyah. Yaitu, sebuah organisasi keislaman yang menghimpun WNI keturunan Nabi Muhammad dari jalur Alawi. Hubungan ini, didorong oleh persamaan visi untuk mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara.

Ketum PBNU dan Habaib Nusantara

NU sebagai organisasi yang berdiri pada 31 Januari 1926, merupakan saudara tua dari Rabithah Alawiyah. Perkumpulan yang awalnya bernama “Arrabitatoel Alawijah itu”, baru muncul pada penghujung 1927. Kemudian mendapatkan legalitas “rechtspersoon” dari Pemerintah Hindia Belanda pada 27 Desember 1928 dengan nama Rabithah Alawiyah.

Sebagai saudara muda, Rabithah Alawiyah tentu berkepentingan untuk menjalin silaturahmi dengan NU. Begitu pula dengan NU yang sangat menjunjung tinggi dzuriyah Nabi Muhammad, keberadaan Rabithah Alawiyah menjadi representasi organisatoris untuk menunjukkan penghormatan pada Ahlul Bait. Rasa inilah yang kemudian terekam dalam perjumpaan penting antara kedua organisasi tersebut, pada Jumat 13 Rabiul Tsani 1347 H atau sekitar September 1928 M.

Sebagaimana terekam pada Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) edisi No.2 Safar 1347 H Tahun Kedua, pertemuan tersebut dilakukan di Kantor PBNU (dulu disebut Hoofdbestuur NO/ HBNO) di Bubutan, Surabaya. Hadir belasan habaib yang menjadi pengurus Rabithah Alawiyah pada pertemuan tersebut. Di antaranya adalah Sayyid Alwi bin Thohir al-Haddad dari Bogor yang merupakan pengawas dari Rabithah Alawiyah. Hadir juga Syekh Abdurrahman bin Umar Jawaz dari Betawi dan Sayyid Alwi bin Muhammad al-Mukhdar dari Bondowoso beserta belasan habaib lainnya dari Surabaya.

Sementara itu, dari pengurus NU sendiri ada 18 kiai yang menyambutnya. Di antaranya adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz dan Kiai Abdul Shiddiq dari Surabaya.

Rois ‘Amm PBNU bersama Habib Abubakar Az Zabidi

Kiai Wahab selaku tuan rumah menyambut gembira atas kedatangan para pengurus Rabithah Alawiyah tersebut. Kedatangan para “saddatunal alawiyin” merupakan anugerah dari Allah yang patut disyukuri. Pada kesempatan itu pula, Kiai Wahab memaparkan tentang tujuan dan kiprah yang dilakukan oleh NU secara panjang lebar.

Hal yang sama juga dilakukan oleh perwakilan Rabithah Alawiyah. Sayyid Alwi bin Thohir mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh NU seraya memaparkan maksud dan tujuan dari rabithah tersebut didirikan.

Seusai sambutan pembukaan resmi tersebut, dilanjutkan dengan musyawarah kedua belah pihak. Membincang berbagai kesepakatan antara NU dan Rabithah Alawiyah. Sayangnya, dalam pemberitaan SNO tersebut, tak dikupas secara detail apa pembicaraan dua organisasi Islam asli Nusantara itu. Hanya ada headline saja yang dimuat.

…كدادوسان ايجاب قبول باب فرسامبوغان ايفون ر.ع [رابطة العلوية] كليان ن.ع [نهضة العلماء] اغدالم حال تولوغ تينولوغ اغدالم غوفادوس كالرسان واه هامبوجالي كالفاتن كغ سارانا ممبيلا مذهب….

[…kedadusan ijab qabul bab persambunganipun R.A (Rabithah Alawiyah – pen) kaliyan N.U (Nahdlatul Ulama – pen) ing dalem hal tulung tinulung ing dalem ngupadus kaleresan wah hambucali kalepatan kang sarana membela madzhab….]

Demikian tertulis di SNO dengan aksara Pegon dan berbahasa Jawa. Adapun artinya kurang lebih demikian:

“…telah terjadi kesepakatan (ijab qabul) tentang persambungan antara Rabithah Alawiyah dengan Nahdlatul Ulama di dalam tolong menolong untuk mengusahakan kebenaran dan menghilangkan kekeliruan dengan sarana membela madzhab…”

Kesepakatan tersebut, tentu sangat rasional mengingat peran-peran NU yang getol melawan propaganda kelompok Islam anti-madzhab yang kerap membid’ahkan, bahkan mengkafirkan amaliah Islam Ahlusunnah wal Jamah. Dimana, amaliah tersebut, baik yang dipraktikan oleh para kiai maupun habaib, tak ada beda satu pun.

Seiring waktu, kesepakatan tersebut terus dijunjung tinggi. Baik oleh NU maupun oleh Rabithah Alawiyah. Kerjasama kedua belah pihak dalam mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah juga dikembangkan dalam berbagai lini. Tak terkecuali dalam mempertahankan NKRI. Kedua ulama dari organisasi tersebut, saling mendukung, menguatkan dan menghormati satu sama lain.

Dewasa ini, keharmonisan NU dengan Rabithah Alawiyah tetap terjaga dan senantiasa harus dijaga. Propaganda politik dan propaganda kelompok-kelompok anti-madzhab semakin menggelora. Lebih hebat ketimbang 90-an tahun silam tatkala kesepakatan tersebut disetujui. Tak sedikit upaya-upaya untuk membenturkan para kiai dengan dzuriyah Nabi Muhammad. Polarisasi terus dikuatkan dengan beragam macam fitnah, berita bohong (hoax) dan lain sebagainya.Mari kita berkirim al-Fatihah untuk KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah dan sejumlah muassis NU lainnya, serta berkirim al-Fatihah pula kepada Sayyid Alwi bin Thohir al-Haddad, Syekh Abdurrahman bin Umar, Sayyid Alwi bin Muhammad al-Mukhdar dan sejumlah muassis Rabithah Alawiyah lainnya, semoga kesepakatan para pendahulu dan harmonisnya hubungan kedua organisasi ini tak terputus oleh apapun. Al-Fatihah….. (*)