Hakikat Lailatul Qadar dan Budaya Islam Nusantara Di Kalangan Nahdliyin Betawi

 

Ust. Acep Pudoli, M.Pd, Ketua Pergunu Kota Depok 

Ketika Ramadhan tiba, yang kita ingat dan rasakan disaat anak-anak adalah antusias dan gembira, terlebih jika sudah memasuki 10 terakhir Ramadhan , selain kita bergembira dengan hadiah baju lebaran dan persenan karena sudah mampu melaksanakan puasa di paruh akhir dari bulan ramdhan.

Namun kita bergembira pula di saat malam – malam terakhir bulan Ramadhan, pada malam – malam ganjil. Diantaranya mengaji bersama atau bertadarus hingga waktu larut malam secara bergantian. Bahkan sampai menginap. yang sangat berkesan pada saat itu adalah bersama- sama menyambut datangnya Lailatul Qadar bersama kawan – kawan dan ustadz  setempat mengisi malam mulia itu dengan beribadah di Musholla,di Masjid bahkan sampai waktu sahur tiba baru kita pulang ke rumah masing – masing dan terkadang di jemput kedua orang tua Kita

Hal tersebut tidak pernah diizinkan kecuali pada bulan Ramadhan, dengan berbagai pernak pernik nya ramadhan dan menyambut malam kemuliaan terdapat hikmah dan pesan tersendiri pada saat itu.
Walaupun pada saat itu kita sama – sama belum memahami makna Lailatul Qadar. Namun hanya tahu bahwa melakukan ibadah pada mlm itu sebanding dengan ibadah selama 1000 bulan.

Berjalannya waktu dan tak henti dalam menuntut ilmu, pemahaman itu mulai sedikit tercerahkan. Diantaranya: ada beberapa makna yang saya dapat dari kalimat Lailatul Qadar:
Lail berarti malam, kata  Qadar sendiri memiliki beberapa arti,diantaranya sebagaimana yang diuraikan oleh Prof. M. Quraisy Syihab dalam Tafsir al Misbah;

  1. Qadar memiliki arti kemuliaan, jadi Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan. Bukan kah malam itu lebih mulia dari seribu bulan.
  2. Qadar berarti ketetapan, jadi dapat dipahami Lailatul Qadar adalah malam ketetapan/taqdir Allah S.W.T untuk manusia yang menyangkut hidupnya satu tahun kedepan.
  3. Qadar memiliki arti pengaturan, jadi malam lalilatul qadr adalah malam pengaturan strategi dakwah Nabi kedepan untuk mengajak manusia menyembah beribadah hanya karena Allah S.W.T/mengajak pada kebaikan.
  4. Qadar juga berarti sempit, ini dapat di pahami karena pada malam itu bumi seakan – akan sempit karena penuh oleh malaikat yang berlalu – lalang menyalami hamba – hamba yang bertemu dengan Laitul Qadar. Demikian yang saya pahami dari sekian banyak uraian tentang makna lailatulqadar, pengertian itu senada dengan uraian Dr. Waryono Abdul Ghapur dalam bukunya yang berjudul Tafsir sosialnya.                                       

Dari sekian banyak makna itu semua dapat dibenarkan,terlebih memang tidak ada yang dapat menembus makna hakikat malam Lailatul Qadar karena begitu sangat mulianya malam itu sehingga tidak dapat di jangkau oleh rasio. Namun kita menyambutnya dengan antusias akan kehadiran malam mulia nan agung karena memang mulianya malam tersebut.

Namun dalam Q.S al Qadar bahwa malam itu adalah malam turunnya Malaikat dan kedamaian. Ini yang menjadi indikator orang yang bertemu Lailatul Qadar, demikian Prof. M. Qurasy Shihab menguraikan dalam bukunya kumpulan 101 kultum tentang Islam. Turunnya Malaikat pada malam itu guna mendorong dan mengukuhkan (hamba- Nya) dalam melakukan kebaikan. Orang yang bertemu Lailatul Qadar Bertambah kebaikannya dan konsistensi hingga akhir hayatnya, walau dalam qadar yang berbeda.

Bukankah yang bertemu Lailatul Qadar adalah yang konsistensi dalam kebaikan selama satu tahun penuh bukan yg beribadah pada malam – malam tertentu saja atau pada malam Lailatul Qadar saja dan tempat -tempat tertentu saja sebagaimana yang selama ini kita pahami… ???!!!  kedamaian bersemai di dalam hatinya, hingga akhir hayatnya.

Kalau demikian adanya, apakah akan turun malam kemuliaan di tahun ini, sementara kita berada di tengah – tengah amarah, dengki, fitnah,caci maki …???!!! sekira nya tidak ada makna kebaikan dan kedamaian Lailatul Qadar tidak turun pada tahun ini dalam bentuk dan tanda – tanda yang banyak diutarakan oleh para ulama – ulama kita, hening, sejuk, adem, damai.

karena Ramadhan ini telah ternodai dengan marah dan ankara, rusuh, benci, sumpah serapah, fitnah dll. Namun kita berharap kehadirannya bisa turun (Lailataul Qadar) dalam bentuk yang lain. Sebagaimana yang diuraikan di media lainnya bahwa tanda tanda turunnya lailatul qadr jauh dari apa yang kita saksikan, karena Ramadhan kali ini terlalu banyak dikotori dengan hasrat – hasrat yang tidak lagi murni Dan juga jangan mengira bahwa lailatul qadr itu di peroleh oleh orang yang sedang beribadah di masjid – masjid dan di mushollah – mushollah dan malam-malam ganjil.

Bukankah ibadah tidak hanya bentuk -bentuk ritual berdasarkan waktu -waktu yang telah ditetapkan dan hitung- hitungan angka dan tempat…. ???!!! Bukankah pula baginda nasab menyembunyikan kepastian kapan pastinya lailalulqadr tiba, agar kita setiap saat beribadah…. ???!!! Sholatnya jika benar akan berdampak pada kehidupan sosial, menjaga lisannya, tidak menyebar fitnah, kebencian atau kata- kata yang menyakiti.

Ibadah yang benar akan melahirkan peduli sesama, hubungan baik kepada sesama, tetangga dan masyarakat. Kuncinya adalah konsistensi mengamalkan nilai- nilai ajaran agama dimanapun dan kapanpun berada. kapanpun lailatul qadr tiba, bisa dipastikan ia sedang dalam keadaan beribadah kepada Allah swt. Wujud tibanya Lailatul Qadar dalam bentuk yang universal adalah pada bangsa Indonesia. Konsisten dalam berbangsa dan bernegara yang selama Ramdhan ini ternodai nafsu pribadi, ambisi hewani – Allah turunkan air segar yang menghapus noktah hitam itu. Sehingga Lailatul Qadar berkenan mampir dan menjatuhkan berkahnya bagi umat muslim Indonesia. Wallahu ‘alam

Ditulis oleh Ustadz Acep Pudoli, Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama PC Pergunu Kota Depok

( Santri Noesantara/ Murtadha)