Forum Dialog Kebangsaan, “Semangat Nasionalisme Santri”

Acara Dialog Kebangsaan Santri 

SINGARAJA – Sejumlah santri, pelajar dan mahasiswa dari Yayasan Amin Balo Dewata tampak antusias mengikuti dialog kebangsaan Santri yang digelar di aula kantor urusan agama (KUA, Buleleng Jumat (28/6) kemarin. Hadir pembicara dalam dialog tersebut Penasehat Yayasan Amin Balo Dewata KH. Muhammad Maksum Amin, Surayanah selaku Praktisi Pendidikan dan dosen STAI Istiqlal Gerogak serta Danramil 1609-06/Sawan Kapten CBA Ari Pamungkas.

Dalam dialog yang berlangsung selama 2 jam lebih para santri diberikan pemahaman wawasan kebangsaan, kecintaan terhadap NKRI (Nasionalisme) dan bagaimana mengamal nilai-nilai pancasila ketika berbaur dengan masyarakat.

KH. Muhammad Maksum Amin mengatakan santri setidaknya harus merasa punya peran. Tidak hanya mengenal para pendiri bangsa dan pahlawan. Justru bagaimana dapat mengisi pembangunan khusus dalam sisi pendidikan. Bagaimana menjadi seorang siswa yang berprestasi.

“Santri harus menyiapkan diri untuk bisa berkiprah lebih besar dan lebih signifikan untuk kemajuan bangsa dan Negara,” ujar Kiai Maksum Amin membakar semangat para santri.

Oleh karena itu, kata dia, santri harus siap untuk mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Santri tidak hanya harus punya semangat tapi juga harus punya kemampuan dan kompetensi.

“Kita ingin memberikan semacam stimulus terhadap semangat para santri. Artinya, santri itu harus punya semangat mengabdi pada bangsa dan negara serta mencintai tanah airnya,” ungkapnya.

Kapten CBA Ari Pamungkas, Koramil Sawan

Sementara itu Komandan Rayon Militer 1609-09/Sawan, Kapten CBA Ari Pamungkas memberikan penekanan pada bagaimana para santri dan pelajar memahami wawasan kebangsaan, paham radikalisme dan narkoba. Patut disadari banyak generasi muda yang terjerumus dan terpengaruh oleh pergaulan bebas, dan obat terlarang. Banyak generasi muda yang tersusupi oleh paham-paham radikalisme.

Kedua hal itu harus dari niat pada diri untuk mulai menjauhi. Para santri mulailah sering mengikuti kegiatan diskusi, dialog kebangsaan dan forum-forum kecil yang membahas Pancasila dan Keindonesianya.

“Itulah yang harus lebih gencar dilakukan baik dalam kegiatan sekolah dan forum-forum yang ada di kampus, dan pondok pesantren” pungkasnya.

Penghargaan dan sertifikat bagi Ibu Surayanah, M.Pd Dosen STAI Istiqlal 

Di sisi lain Surayanah selaku dosen STAI Istiqlal Gerokgak menjelaskan bahwa pendidikan tidak harus bekal pengetahuan saja. Tetapi juga penting memiliki keterampilan (psikomotorik) dan sikap prilaku yang baik. Di era globalisasi tiga kemampuan itulah yang harus dimiliki oleh santri.
“Sehingga mampu menghadapi ero globalisasi nanti yang penuh persaingan,” ungkapnya.

Lanjutnya, lalu bagaimana upaya para santri mencegah dan menangkal radikalisme dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu dengan memperhatikan berita, informasi dan menyaring informasi yang mengarah kepada intoleransi dan radikalisme. Karena saat ini berita hoaks, ujaran kebencian sudah merambah dalam media sosial.

“Selain itu salah satu cara lain kembali pada paham wawasan kebangsaan, pancasila, NKRI dan Nasionalisme. Kemudian guru atau asatidz/zah harus selalu mengedukasi para santri tentang wawasan kebangsaan kepada lingkungan pondok pesantren,” tandasnya. (Santri Noesantara /Tabrani)