Berjuang Menjadi Jurnalis NU

Serang ( Santri Noesantara ) – Ku tempuh jarak puluhan kilometer hanya dengan mengendarai sepeda motor sederhana, mungkin jika ia dapat bicara telah mengucapkan kata “Lelah”. Hingga kini aku belum sanggup untuk memperbaikinya karena masih banyak keperluan prioritas yang cukup menguras dana. Ucap “syukur” terlantun dari bibir ini karena masih memiliki kendaraan yang dapat mengantarkan jika ada keperluan antar kota atau kabupaten, walaupun tidak bisa secepat kendaraan yang lain.


Siang itu pada hari Selasa 18 Desember 2018, aku menghadiri pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh salah satu Komisariat yang berada dalam naungan Cabang Kabupaten Serang. Dari awal aku tak paham akan kegiatan tersebut yang bejudul pelatihan tapi menggunakan konsep seminar, “Tapi itu bukanlah persoalan yang serius” pungkas ku. Walau berimbas kepada targetan atau  pencapaian kegiatan yang tak akan dapat di raih secara maksimal seperti yang termaktub dalam tema. Adapun aku lebih tertarik untuk membahas tentang sub sub yang telah disampaikan oleh narasumber yang memang konsisten merawat kata – kata dalam degup jurnalistik hingga esai – esai.


Salah satu anggota pun datang menghampiri aku dan para senior yang duduk di depan ruangan pelatihan dengan membawa empat gelas kopi, sungguh santun nan khidmat ia menyuguhkannya. Ucap ku “terimakasih”, hingga aku bergeser untuk ikut mendengarkan apa yang disampaikan oleh narasumber.

Goenawan Mohamad dalam salah satu esainya pernah menuliskan bahwa puisi lahir akibat persentuhan seorang penyair dengan realitas, dengan alam. Dalam kata persentuhan terkandung makna bahwa ada “pertemuan”, ada “persinggungan” yang menyebabkan jiwa kita tersentak dan terujarlah serentetan kata yang khas yang kita sebut sebagai puisi. Pertemuan dan persinggungan itu melahirkan sejumlah pengalaman, pengalaman menghayati sejumlah pristiwa, baik yang dialami sendiri maupun yang dialami orang lain yang dekat dengan kita, dalam posisi kita menyukainya atau membencinya.


Liarnya imajinasi ku sebelum berangkat telah menggambarkan seperti kejadian di kegiatan Gerakan Surau Buku (GSB) di Yogyakarta pada 27 April 2018 yang di narasumberi oleh Nurel Javissyarqi seorang penulis buku MMKI “Memangkas Mitos Kesusastraan Indonesia”. Yang mana dapat menghadirkan nama – nama besar di jagat kesusastraan Indonesia, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Dami N. Toda, Taufiq Ismail, dan lain-lain. Dia kritik, dikarena kesalahan – kesalahannya yang dianggap mencederai dunia susastra dan fatal. Setidaknya itulah yang dia paparkan.


Tetapi apa yang ku dapatkan, hanyalah kekakuan dan kedinginan diruangan pengap menyesakan nafas. Tapi aku sadar bahwa ini adalah pelatihan jurnalistik, dimana mereka dilatih menjadi penulis ulung surat kabar yang memuat sejumlah berita – berita yang nyentrik. Bukanlah soal esai – esai, puisi ataupun sajak – sajak. 

Beberapa audiens sempat menyinggung soal  karya tulis berupa novel online yang mana itu sangatlah menarik untuk dikembangkan lebih lanjut, atau soal bagaimana cara membuat blog.  Mereka dikenalkan dengan beberapa akun – akun blog yang tulisannya sangatlah menarik, aku pun sepakat akan hal tersebut. Akan tetapi, selama hampir 30 menit aku duduk di antara para audiens belumlah aku terasa tertarik akan hal yang sedang dibahas. Hingga salahsatu narasumber memperkenalkan karya buku yang entah berjudul apa dan berisi apa, ia hanya berbicara “kalian bisa membuat tulisan secara kolektif dimana bisa kalian jadikan karya tulis berupa buku seperti ini”. Tanpa menjelaskan bagaimana cara membuat tulisan – tulisan yang dapat melahirkan karya sastra yang memiliki nilai estetik yang tinggi melalui realitas yang dihadapi oleh penulis melalui penghayatan terhadap alam atau kemanusiaan yang sampai pada tataran kesadaran akan kebermaknaan bagi kehidupan, dengan resapan kata – kata sederhana dengan metafor yang sederhana pula tetapi mampu menularkan sejenis penghayatan akan kejadian.


Hingga berakhirnya kegiatan tersebut aku tak bisa masuk dalam koridor dialog pelatihan, akan tetapi aku berterimakasih telah menyuguhkan itu kepada ku, hingga aku mendapatkan obyek baru tulisan – tulisan kecil kejadian kehidupan. Tuangan tulisan ini aku maksudkan untuk menjadi bahan renungan tersendiri di dunia penghayatan kata – kata, manusia ini hanya mengharapkan pelajaran tentang tulisan hingga sastra karena sadar betul akan minat ku untuk mengembangkan hobi ini.


BERSAMANYATak sedikit orang yang berharap aku menulis untuknya
Tak sedikit pula yang meminta ku untuk meraih piala
Semua adalah tawaran luar biasa yang tak sanggup untuk ku genggam
Rasanya aku tak sanggup menerima katabuannya
Aku hanya pengungkap rindu dengan kata
Aku hanya pecinta dengan pena
Aku hanya menyukainnya karena keindahannya
Aku mengaguminya karena kebijaksanaannya
Tak sanggup hati ini menjual hal indah yang amat berharga
Tak sanggup rasanya melepas gelora kedewasaannya
Tak sanggup aku menggantungkan perut ku kepada kata kata
Aku hanya pengungkap cinta & kerinduan dimalam malam pendosa
Dia menari diangan angan kehampaan
Dia bermanja manja dalam keterampasan
Dia bersimpuh dalam ketidak berdayaan
Dia bermimpi menjadi mutiara didasar lautan


Oleh : Syahrudin Attar,  Ketua 2 PC PMII Kabupaten serang