Berjuang Menelusuri Jejak Dakwah NU di Papua

Teluk Bintani – Ustadz Ahmad Baihaqi bersama Gus Maksum orang pertamakali merambah dakwah NU ke pedalaman Papua. Tapi sayang dokumentasi foto-fotonya tersapu banjir di rumah Ustadz Ahmad Baihaqi sewaktu dulu tinggal di Jatinegara dekat sungai.

Pulang dari Pesantren Lirboyo, Ustadz Ahmad Baihaqi merasa kehilangan sosok pegangan dan dia sempat jualan bakso di depan rumahnya.

Singkat cerita pas saya (KH. M. Hariri Batokan) ke Jakarta silaturrahim ke kawan alumni Lirboyo bernama Ustadz Sauban Abdul Aziz (HM). Rumahnya arah barat persis Masjid Al- Munawar, tempat Habib Mundzir tiap hari Rabu mengisi majelis.

Saya ajak kawan saya itu keliling ke Jakarta untuk bersilaturrahim ke sesama alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Ternyata Ustadz Ahmad Baihaqi belum kenal Ustadz Sauban. Setelah saling kenal suatu ketika Ustadz A. Baihaqi bersilaturrahim ke rumah Ustadz Sauban. Berpapasan di situ ada acara rutinan Habib Mundzir Al-Musawa.

Kemudian dikenalkanlah Ustadz Ahmad Baihaqi oleh Ustadz Sauban karena sudah lebih kenal akrab dengan Habib Mundzir Al-Musawa. Ini saya baru tahu karena dikasih tahu oleh Ustadz Sauban sendiri.

Jadi pertemuan pada saat itu akhirnya makin akrab dengan Ustadz Juned Sawangan yang sekarang ngisi atau pemangku Masjid Kubah Emas Depok.

Jadi saya silaturrahim pada acara sekitar tahun 2000 jelang saya mau mukim di tanah suci, Mekkah. Saya ingat acara maulidan pertama besar dilakukan di tempat Ustadz Ahmad Baihaqi di Jatinegara, mungkin hanya sekitar 250 orang.

Setelah makin akrab, sama jatuh cintanya antara Ustadz Ahmad Baihaqi dan Habib Mundzir, kemudian ditambah ketika datangnya Habib Umar bin Hafidz.

Ustadz Ahmad Baihaqi, setelah kehilangan Gus Maksum bagai layangan putus jadi tenang karena menemukan seorang sosok guru kembali. Dan perjuangn paling berat ke Papua Ustadz Ahmad Baihaqi memang pada waktu dengan Gus Maksum. Beliau sampai di tengah hutan kehausan. Mendapatkan minum dengan cara memotong pohon menjalin lalu dihisap rasanya seperti air mineral, katanya.

Tapi perjuangan Gus Maksum tetap yang menonjol, pada saat itu bela diri, karena masyarakat di Papua senang akan hal itu. Makanya walau bagaimanapun santri Papua pasti tiap tahun diajak ziarah atau mengenal gurunya yaitu Gus makysum, selain Habib Mundzir dan Habib Umar bin Hafidz.

Tapi saya waktu itu memang sempat lihat foto-foto di Papua waktu Ustadz Ahmad Baihaqi ditugaskan Gus Maksum. Sayangnya kini telah dilahap banjir tak tersisa. (Diceritakan oleh KH. M. Hariri Pondok Pesantren Batokan).

Disadur dari FB Gus Sya’roni Assyampuri