Batik simbol welas asih ajaran Walisongo

Membatik dipandang sebagai kegiatan penuh nilai kerokhanian yang memerlukan pemusatan pikiran, kesabaran, dan kebersihan jiwa.

Oleh karenanya, coraknya penuh dengan simbol dan corak-corak tertentu, yang melambangkan berbagai pesan dan kode khusus yang memiliki beribu makna tersembunyi dibaliknya.

Meskipun terlihat sederhana, namun dalam setiap gores motif batik, terkandung makna filosofis yang mendalam.

Sebagai contoh motif Sidoluhur, secara harfiah, sido dalam bahasa Jawa memiliki arti jadi, atau menjadi, sedangkan luhur artinya terhormat dan bermartabat. Sehingga, menurut filosofinya, batik Sidoluhur ini menjadi salah satu bentuk doa sang pemakai agar selalu sehat jasmani rohani, serta menjadi orang yang terhormat dan bermartabat.

Para Walisongo berdakwah dengan sangat santun di bumi nusantara, dan dengan cara yang sangat indah, sehingga hasilnya adalah masyarakat Indonesia berbondong-bondong memeluk agama Islam tanpa ada kekerasan dan pertumpahan darah.

Para Walisongo menyampaikan ajaran-ajaran Islam tidak langsung semuanya disampaikan, karena para Walisongo tahu betul kapasitas umatnya, ketika para Walisongo ingin menyampaikan pentingnya menutup aurat, mereka memperkenalkan Pakaian kain untuk menutup aurat, yang dulu masih banyak tidak menutup aurat, dan masih ada yang menggunakan pakaian dari daun.

Kemudian para Walisongo memperkenalkan kain yang diberi corak dedaunan yang ini menjadi cikal bakal Pakaian Tradisional yang bernama Batik.

Hakikatnya para Walisongo ingin memperkenalkan Al-Qur’an dengan cara yang mudah bagi penduduk Nusantara, mereka mengajarkan bahwa Al-Qur’an adalah Pedoman umat Islam, yang inti dari Al-Qur’an terangkum dalam surah Al-Fatihah, dan inti dari surah Al-Fatihah terdapat pada Kalimat Basmallah, dan inti dari Basmalah terangkum pada huruf ba (ب), dan huruf ba (ب) ini dibawahnya ada titiknya (نقطة).

Sehingga dipermudah untuk menghafalnya dengan sebutan ba-tik (huruf ba (ب) yang cirinya ada titik satu) kemudian para Walisongi mempopulerkan kata batik.

Banyak simbol dan arti tersendiri dari setiap goresan pakaian kain yang diberi corak dedaunan atau garis-garis ini diberi nama batik.

Batik yang kita kenal sampai saat ini adalah, kata yang dipopulerkan oleh para Walisongo yang sebenarnya inti sari dari ajaran Islam. (Iid Ahmad Dimyathi-Mahasiswa program Master dan Pengajar di SMP Lazuardi Al Falah)