Aku Wajib Bangga, Ayahku Seorang Banser

Serang – Trik matahari bukan saja membakar kulitnya namun juga membakar semangatnya terkadang juga ketika hujan memerangi dengan racun dalam hawa dingin yang dibuat, itu tak sama sekali menciutkan nyali yang terpatri dalam jiwa beraninya.

Seseorang yang tak pernah menghitung berapa jumlah pengorbanannya dan tidak pernah mengkalkulasi berapa banyak kontribusi yang harus dibayar. Melakukan segala sesuatu dengan tulus ikhlas adalah hobby, berada dalam satu komando dalam pengorbanan terhadap agama dan negeri adalah sebuah harga diri.

Menjadi seorang banser bukan hanya harus ikut bertanggung jawab dalam urusan bela negara dan agama namun mereka juga adalah seorang laki-laki yang memiliki peran yang bukan hanya satu. Seorang banser adalah seorang anak, suami juga seorang ayah bahkan banyak tokoh lain yang harus dilakoni peran-perannya. Ketika ia dirumah ia harus bertanggung jawab atas kemaslahatan, keamanan dan segala bentuk penjagaan terhadap keluarganya, dimana mencari nafkah adalah sebuah kewajiban seorang laki-laki terutama seorang suami atau ayah. Mereka berkorban demi keluarga, memikirkan kesejahteraan anak istri tercinta namun salutnya mereka tetap mau berjuang dan berkorban tanpa pamrih demi keamaan dan penjagaan terhadap ulama, agama dan negara.

Dari jiwa seorang banser tertanam pengabdian terhadap ummat, tak egois atas dirinya tak sombong atas pribadinya. Mereka rela membagi waktu istimewanya bersama keluarga terlebih seorang anak yang selalu merengek merindui kebersamaan bersama diri seorang ayah, dimana bermain-main dan tertawa bersama seorang anak adalah sketsa apik dari lukisan keluarga.

Pengorbanannya terhadap penjagaan, perlindungan dan pembelaan terhadap ulama, kiyai, umaro, agama dan negara sudah sepatutnya tidak diragui lagi karena dengan halang rintang yang menerjang seorang Banser tetap berdiri kokoh dengan dedikasinya terhadap ummat bukan hanya memikirkan kehidupan peribadinya saja namun mereka juga tak setengah hati dalam pengabdiannya terhadap agama dan negera.

Banyak pelajaran hidup yang akan diajarkan oleh seorang banser, mereka akan mengajarkan sebuah perjuangan pada putra putri tercinta bahwa keimanan seseorang juga dilihat dari bagaimana mereka mencintai negerinya. Akan dididik sang putra putri tercinta bahwa dalam hidup bukan hanya harus memikirkan diri sendri tapi mengenyampingkan urusan pribadi kita demi orang lain dan ummat adalah sebuah kebaikan yang teramat sangat.

Berkata seorang ayah “bersabarlah nak!!! Ayah berjuang demi engkau, ayah berjuang demi guru yang akan kau ambil ilmunya dan kau tauladani kepribadiannya dan yang terpenting ayah berjuang demi kenyamanan dan keamanan tanah air yang kau singgahi ini karena tanah ini adalah tempat engkau bersujud dan beribadah kepada Tuhanmu”

Seorang anak dengan gurat senyum diwajahnya menimpali “aku bangga menjadi anak dari seorang Banser”

( Santri Noesantara/Defah).